Lebih Dekat Dengan Kepulauan Seribu

Kepulauan Seribu terdiri dari 105 gugus pulau terbentang vertikal dari teluk jakarta hingga ke utara yang berujung di Pulau Sebira yang berjarak kurang lebih 150 km dari pantai Jakarta Utara. Kepulauan seribu merupakan bagian dari Kabupaten Administratif DKI Jakarta. Wilayah Kepulauan Seribu memiliki luas daratan mencapai 897,71 Ha dan luas perairan mencapai 6.997,50 km2. Kondisi perairan di Kepulauan Seribu mengikuti kondisi umum perairan Indonesia yang di pengaruhi oleh monsun barat atau monsun timur dan musim peralihan.

Ekosistem Pesisir
Kepulauan Seribu dibangun oleh ekosistem terumbu karang yang sekaligus menjadi ekosistem pesisir utama di Kepulauan Seribu. Terumbu karang yang dijumpai ada yang berasosiasi dengan lamun atau dengan mangrove. Menurut beberapa ahli menilai kompleks terumbu karang Kepulauan Seribu tergolong muda, yaitu baru terbentuk sekitar 9000 tahun lalu bersama terumbu karang di Belitung dan Karimun Jawa (Park dkk, 1992 dalam Tomascik dkk 1997; Brown 1991).

Kondisi Sosial Ekonomi
Kepulauan Seribu dibagi kedalam dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kepuluauan Seribu Utara yang memiliki tiga kelurahan (Kelurahan P. Panggang, P. Kelapa, dan P. Harapan) dan Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan yang juga memiliki tiga kelurahan (Kelurahan P. Untung Jawa, P. Tidung, dan P. Pari). Diantara 105 pulau yang dimiliki Kepulauan Seribu namun hanya 11 pulau yang merupakan pulau pemukiman. Hasil sementara Sensus Penduduk pada tahun 2010 menyatakan bahwa dalam kurun 10 tahun terakhir, penduduk di Kepulauan Seribu sebanyak 21.071 jiwa dengan kepadatan penduduk sebanyak 2.422jiwa/km2. Jumlah ini cenderung meningkat dengan laju pertumbuhan 2,02% (Badan Pusat Statistik Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, 2010).Menurut Suku dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Seribu (2010) mata pencaharian masyarakat di Kepulauan Seribu sebanyak 72,30% di bidang perikanan, dengan jumlah nelayan sebanyak 4.880 orang dan petani rumput laut 234 orang. Sebagian kecil penduduk bermata pencah! arian sebagai pegawai swasta dan pegawai negeri sipil.
Dalam lima tahun terakhir, masyarakat juga menunjukkan geliat dengan mengelola secara mandiri, seperti yang dilakukan oleh masyarakat Pulau Pramuka yang menawarkan panorama bawah air (Yusri & Mardesyawati, 2010; Wijayanti, 2008). Wisata pendidikan konservasi antara lain mengenalkan tentang penangkaran penyu sisik, dikelola oleh Taman Nasional Kepulauan Seribu di pulau Pramuka. Pemerintah Kabupaten juga tengah giat mendukung masyarakat mengembangkan wisata seperti yang dilakukan di Pulau Untung Jawa (Wijayanti, 2008), Pulau Tidung Besar, dan Pulau Lancang

Tekanan dan Ancaman
Tekanan dan ancaman di Kepulauan Seribu pada saat ini masih berlangsung atau meningkat intensitasnya. Tekanan yang datang baik dari daratan Jakarta maupun wilayah Kepulauan Seribu sendiri. Salah satu pencemaran yang terjadi adalah Pulau-pulau yang dekat dengan teluk Jakarta memiliki kecerahan dan salinitas yang rendah yang dipengaruhi oleh 13 sungai yang mengalirkan airnya ke Teluk Jakarta (Suharsono, 2005).Sebanyak 65% – 92% nelayan dari 5 kelurahan (Pulau Panggang, Pulau Kelapa, Pulau Pari, Pulau Harapan, dan Pulau Untung Jawa) menyatakan bahwa hasil tangkapan menurun (Napitupulu dkk., 2005).

Meningkatnya kegiatan wisata di Kepulauan Seribu menyebabkan beberapa masalah yang terjadi seperti sampah yang banyak dan belum semua terkelola (Wijayanti, 2008), perilaku masyarakat di Kepulauan Seribu yang terlihat mulai terpengaruh oleh budaya yang dibawa oleh wisatawan, serta semakin maraknya pembangunan penginapan.

Konservasi
Salah satu kegiatan konservasi di Kepulauan Seribu dilakukan oleh Taman Nasional, yaitu dengan cara Pembagian zonasi dalam wilayah Taman Nasional adalah sebuah upaya pengelolaan wilayah untuk meminimalkan atau mengurangi tekanan yang bisa ditimbulkan oleh aktivitas manusia. Di dalamnya, aktivitas manusia yang cukup intensif dibatasi pada Zona Pemukiman dan Pemanfaatan Wisata. Hal yang serupa juga dilakukan Pemerintah Daerah dengan menginisiasi pembentukan tujuh Area Perlindungan Laut-Berbasis Masyarakat (APL-BM) yang didalamnya juga dalam rangka menempatkan masyarakat Kepulauan Seribu secara pelaku aktif konservasi.

Untuk rehabilitasi habitat sejauh ini dilakukan penanaman mangrove, rehabilitasi lamun, serta menyediakan habitat buatan bagi karang dan ikan. Rehabilitasi mangrove antara lain dilakukan oleh IPB, rehabilitasi lamun telah dilakukan oleh taman Nasional sejak tahun 2006 seperti terlihat di sekitar perairan Pulau Pramuka.Penyediaan habitat buatan dimulai oleh Pemerintah Kabupaten di tahun 2002 di seluruh wilayah perairan yang di tahun 2008 telah mencakup 16.900m2 (Suku Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, 2010).

Pendidikan konservasi kepada beragam lapisan masyarakat, terutama masyarakat setempat, telah dikembangkan tidak saja oleh institusi pemerintah tapi juga oleh perguruan tinggi serta lembaga swadaya masyarakat. Sebut saja Institut Pertanian Bogor dengan penyuluhan ke siswa sekolah (http://pksplipb.or.id), serta TERANGI dengan pendidikan dan pelatihan bagi siswa SMU 69, peningkatan kapasitas menuju praktek penangkapan ikan hias ramah lingkungan, serta ekowisata berbasis masyarakat (Yusri & Mardesyawati, 2010).

Artikel Kiriman Dari :Gober {wisatakepulauanseribu.com}

Dapatkan kiriman artikel terbaru ke email anda!

http://www.wego.co.id/hotel?ts_code=b7bf4&utm_source=b7bf4&utm_medium=affiliate&utm_campaign=WAN_Affiliate&utm_content=banner